ini tentang cita-cita yang tak sampai,
atau cita-cita yang tergantikan……

Masa remaja saya terlewati di SMA N 3 Bogor. Ya, menghabiskan waktu bersama selama dua tahun dengan 27 teman-teman gila saya untuk belajar, main, nongkrong dan sebagainya. Mereka teman yang istimewa, meski sering senang-senang di luar sekolah, mereka tetap bertanggung jawab dengan nilai sekolah mereka dan seriuss terhadap hari depan termasuk cita-cita.
Saat itu, mungkin saya satu-satunya yang disorientasi cita-cita. terkadang saya ingin jadi dokter, guru, bidan, menteri perindustrian, peneliti dan sebagainya. Hingga menjelang UAN, saat hampir semua teman saya sudah mempunyai tiket di perguruan tinggi dengan jalur PMDK, saya masih belum juga menentukan pilihan. Dan, entah kepa karena terdesak saya mendaftar jalur PMDK (raport) di AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR.
Waktu berjalan, saya dan teman-teman menyelesaikan UAN,UAS dll dengan nilai yang cukup memuaskan. Ternyata teman-teman saya belum cukup puas dengan tiket PMDK yang mereka miliki. Merekapun melanjutkan perjuangan ke jalur UMPTN.
Saya, yang kebetulan sudah memulai perkuliahan matrikuasi Di AKA bogor sedikit malas untuk mengikuti serangkaian ujian lagi. Tapi mereka mampu mengalirkan induksi emosi untuk UMPTN.
Jujur, saya memang tidak bersungguh-sungguh mengikuti UMPTN. Tidak ada persiapan, bahakan di pagi hari sebelum berkas dikumpulkan, saya masih belum tahu akan mendaftar kemana. Dan tiba-tiba mata saya tertuju pada dua baris, Pendidikan Dokter Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, dan Ilmu Keperawatan di universitas yang sama, dan itulah pilihan yang saya masukkan pada formulir UMPTN.
Menjalani UMPTN tidak begitu menyenangkan, ada beberapa pelajaran sudah saya lupa, karena saya benar-benar tidak ada persiapan, dan tidak belajar, hanya terbawa arus induksi teman-teman.
Hari-hari selanjutnya, saya jalani dengan mengikui rangkaian matrikulasi di AKA. Sebelum hasil UMPTN dimuat, ternyata pihak UIN menelpon ke rumah. Namun sayang, saat itu saya sedang belajar di kampus baru, dan ibu saya tidak mengerti apa2. beliau hanya memberi modal dan doa.
Hasil UMPTN diumumkan, dan nama aya tercantum di ilmu keperawatan UIN. dan tema-teman saya diterima di pilihan yang mereka harapkan. saya sedikit kecewa, kenapa tidak belajar serius agar diterima di pilihan pertama. Sepertinya skor saya hanya kurang sedikit.
Sampai di rumah, saya menelpon kampus UIN, dan bertanya saya diterima di ilmu keperawatan atau kedokteran karena sebelumnya ada telepon bahwa saya boleh pindah ke kedokteran (pertanyaan bodoh? kenapa begitu percaya dengan telepon yang entah dari mana). Pihak UIN menyarankan agar saya datang saja ke jakarta dan mengurus semua persyaratannya terlebih dahulu.
Bogor memang tidak jauh dari Jakarta, tapi jujur saat itu saya belum pernah menginjakkan kaki di ibukota. Setelah berdiskusi dengan orang tua, akhirnya saya lebih baik meneruskan pendidikan di AKA bogor denganbiaya relatif murah, dekat dan berkualitas.
Hilanglah harapan perawat, dokter dan UIN. Kini berfokus menjadi analis, ilmuwan dan menikmati kampus tanah baru AKA bogor.
Masa pendidikan 3 tahun berjalan lancar. Saya pun mendapat pekerjaan yang sesuai sebelum wisuda (sebelum seminar dan sidang malah). Selang beberapa bulan dari wisuda, saya teruskan pendidikan saya menjadi S1 di universitas swasta terdekat dengan mengikuti program sabtu minggu.
Bekerja menjadi analis ternyata cukup membosankan, saya pun menjadi kutu loncat yang terbang dari satu perusahaan ke perusaaan lain. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti Tes CPNS, dan Alhamdulillah mencoba di tahun pertama saya dapat langsung diterima.
Sekarang saya tercatat sebagai CPNS Kementerian Perindustrian, dan di tempatkan di Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor. Insya Allah tahun depan SK sebagai PNS keluar, dan berarti takdir saya menjadi seorang guru.
Namun, keinginan menjadi seorang dokter kembali terusik. Cinta pertama dari kekasih saya adalah seorang dokter. Hal itu membuat saya merasa sangat iri dan cemburu. Ada rasa sesal, knp saya tidak mengikuti UMPTN untuk kedua kalinya.
Tapi kemudian saya sadar, takdir setiap orang berbeda-beda. Lagipula itu hanyalah masa lalu. Allah pasti menunjukan jalan terbaik bagi mahluknya. Saya ditakdirkan menjadi seorang guru bukan seorang dokter. Karena saya ditakdirkan untuk menyebarkan ilmu, itulah tugas khalifah saya di bumi. Lagipula biaya untuk menjadi dokter sangatlah besar. Orang tua saya hanya pensiunan polisi, tidak cukup leluasa menyekolahkan anknya untuk menjadi dokter.
Begitulah sedikit kisah hidup. Saya sangat bersyukur, karena diberi kesempatan untuk menimba ilmu apapun ilmunya asal bermanfaat. Alhamdulillah, profesi yang saya jalani adalah profesi yang mulia. Itu semua adalah karunia Allah SWT.
Segala Puji hanya untuk Allah… Pemilik Segala Ilmu … Pemilik Seluruh Alam
Semoga memberikan manfaat bagi teman-teman pembaca